Hidup ini bagai surga dunia yang segalanya ada dihadapanku. Aku seperti berada di dalam istana megah. Layaknya seorang pangeran memiliki sejuta dayang. Tuangan kasih sayang selalu mengalir disetiap hari-hariku, membuat hati yang galau menjadi tenang.
Pagi ini Satria mengajakku berkunjung ke rumah Yusuf. Rencananya pagi yang cerah ini akan menemani kami untuk bertamasya di Air Terjun Karungan. Aku melihat ada sepasang kekasih yang bersama-sama, tanpa sadar aku memandang sepasang kekasih itu dengan pandangan cemburu, kini aku baru sadar bahwa hidupku belum lengkap karena aku belum mempunyai seorang kekasih. Sambil melamun dengan memegang minuman di tanganku secara tidak sengaja aku menabrak seorang perempuan yang sedang memegang kucing di tangannya, dengan cepat aku lari karena aku takut kucing. Tak terasa hari sudah sore. Aku, Satria, dan Yusuf pulang ke rumah kami masing-masing. Sesampainya di rumah aku masih membayangkan kemesraan sepasang kekasih yang aku lihat di tempat tamasya. Waktu terus berjalan tak terasa sudah tengah malam, akupun ingin memiliki seorang kekasih. Aku bertekad walau aku harus berkorban untuk mendapatkannya, apapun hambatannya pasti akan kucari walau sampai ke ujung dunia untuk mendapatkannya.
Malam pun berganti pagi. Jam pun berbunyi membangunkan diriku yang sedang berada di dunia mimpi. Dengan langkah gontai aku pun bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah itu mandi, lalu bersiap-siap , kemudian pergi ke sekolah bersama Yusuf. Sesampainya di sekolah, kami segera ke kantin untuk membeli makanan. Bel sekolah telah berbunyi itu waktunya untuk upacara hari senin, pada saat ikut melaksanakan upacara, hingga hampir selesai, ada seorang perempuan baris didekatku. Berparas cantik, menawan, berambut pendek, berkulit halus, tetapi ada yang aneh dengannya mukanya pucat, matanya sayu, seperti mayat hidup. Tak lama kemudian perempuan itu pingsan dan tidak sengaja aku menangkap tubuhnya yang akan jatuh, dan saat aku menangkap tubuhnya sesuatu yang aneh terjadi kepadaku jantungku terasa cenat cenut, darahku mengalir dengan deras hingga ke kepalaku membuat wajahku merah merona.
“Perasaan apa ini? Apa yang terjadi denganku, mengapa ku jadi aneh kayak gini, apakah ini rasanya jatuh cinta? Nggak mungkin aku jatuh cinta padanya,” kataku dalam hati.
Walau hanya beberapa saatku pegang tubuhnya seakan ia telah menjadi milikku. Perempuan itupun di bawake ruang UKS dengan segera. Tak lama kemudian perempuan itu tersadar dari pingsannya dan saat istirahat sekolah, perempuan itu menghampiriku dengan rasa malu-malu sambil berkata.
“Terima kasih tadi sudah menahanku jatuh,” kata perempuan manis itu.
“Sama-sama,” kataku.
“Perkenalkan aku Mira,” sambil menjabat tanganku.
“Aku Adhitya. Panggil saja aku Adhit,” jawabku dengan wajah sumringah.
“Sebagai tanda terima kasih telaj menolongku, aku ingin jalan-jalan dan kamu harus ikut karna kamu sudah menolongku tadi, bagaimana Adhit? Apa kamu mau ikut?” ajak Mira.
“Ya ya ya oke, nanti pulang sekolah aku tunggu kamu didepan gerbang sekolah ya,” kataku dengan senang hati.
Aku kembali kekelas dengan bahagia, aku duduk dengan sahabatku Satria sambil membayangkan wajah Mira yang Cantik.
“Ada apa dengan sahabatku, wajahmu seperti orang yang mendapat uang yang sangat banyak?” kata Satria.
“Tidak aku hanya sedang senang saja hari ini,” kataku sambil tersenyum.
Jarum jam pun berputar dengan cepat, bel pulang sekolah pun berbunyi, aku pun menunggu di depan gerbang sekolah. Aku melihat Mira dengan rambut tergerai.
“Wah, benar-benar cantik Mira. Di lihat dari mana pun tetap saja Cantik,” kata hati kecilku.
“Mira, kita mau kemana?” tanyaku basa-basi.
“Aku mau kamu yang menentukannya, bolehkan?” kata Mira.
“Ya sudah aku mau mengajakmu ketempat yang menyenangkan, tapi sebelum kita pergi ke tempat itu aku mau mengajakmu makan biar kamu nanti tidak pingsan. Oke?” kataku tersenyum genit.
“Kamu mau makan apa Mira?” tanyaku.
“Aku mau bakso aja Dhit,” pintanya.
“Ya sudah kita ke warung bakso di dekat sini,” jawabku.
Sesampainya di warung bakso, kami masuk dan duduk.
“Mir, kamu mau makan apa?” tanyaku.
“Aku mau makan bakso aja, sama minumnya es teh ya Dhit,” kata Mira.
“Mas, baksonya dua sama es tehnya juga dua,” kataku memesan makanan.
Selagi kami menunggu pesanan kami, aku mengobrol dengan Mira. Tidak lama kemudian pelayan datang dengan membawakan pesanana kami. Setelah memakan semangkuk bakso dan minum segelas teh, perut kami pun telah terisi. Kamu pun melanjutkan perjalanan pergi ke Taman Oval Ladang. Di sana aku dan Mira betemu dengan Satria dan Yusuf.
“Oh, pantes kamu senang Dhit! Selamat ya Dhit,” kata Satria.
Kami semua tertawa bersamaan, aku hanya bias tersipu malu atas ucapan Satria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar